Hubungan Diferensiasi Diri Dan Keberfungsian Keluarga Dengan Sikap Terhadap Pernikahan Pada Individu Emerging Adulthood Di Tangerang
Kata Kunci:
diferensiasi diri, keberfungsian keluarga, sikap terhadap pernikahanAbstrak
Penelitian ini bertujuan mencari tahu hubungan antara diferensiasi diri, keberfungsian keluarga dengan sikap terhadap pernikahan pada individu dewasa awal di Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Sampel terdiri dari 424 individu berusia 18–25 tahun yang berdomisili di Tangerang (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara positif antara diferensiasi diri dengan sikap terhadap pernikahan (0.689) dan keberfungsian keluarga dengan sikap terhadap pernikahan (0.548). Berdasarkan penemuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi diferensiasi diri ataupun keberfungsian keluarga pada individu, maka semakin positif sikap terhadap pernikahan. Selain itu, ditemukan pula perbedaan antara hasil penelitian dengan fenomena lapangan. Pergeseran sikap individu masa transisi menuju dewasa terhadap pernikahan ke arah yang cenderung negatif tidak terjadi signifikan, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas individu masa transisi menuju dewasa di Tangerang memiliki sikap yang cenderung netral dan positif terhadap pernikahan.
Referensi
Abbasi, G., & Hoseyni, S. S. (2019). Correlation between family function, self-differentiation, and life satisfaction with attitude toward marriage of veteran’s children. Iranian Journal of War & Public Health, 11(1), 35–40.
Annisa, N., & Dalimunthe, F. (2021). Aman, menghindar, cemas: Pengaruh attachment style terhadap kesiapan menikah pada dewasa awal. Jurnal Ilmiah Psikologi (JIPSI), 3(1), 12–18.
Arnett, J. J. (2024). Emerging adulthood (3rd ed.). Oxford University Press.
Badan Pusat Statistik. (2022). Nikah dan cerai menurut provinsi (kejadian), 2020. bps.go.id. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi--2022.html?year=2020
Badan Pusat Statistik. (2023). Nikah dan cerai menurut provinsi, 2022. bps.go.id. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi--2022.html?year=2022
Badan Pusat Statistik. (2024). Nikah dan cerai menurut provinsi, 2023. bps.go.id. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi--2020.html?year=2023
Blagojevic, M. (1989). The attitudes of young people towards marriage: From the change of substance to the change of form. Marriage & Family Review, 14(1–2), 217–238.
Bowen, M. (1978). Family therapy in clinical practice. Jason Aronson.
Davita, J. (2021). Hubungan antara kematangan emosi dengan kesiapan menikah pada dewasa awal. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(7).
Defandri, W., Murialti, N., & Hidayat, M. (2024). Analysis of declining birth rates in South Korea. COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 3(11), 4728–4736.
Epstein, N. B., Baldwin, L. M., & Bishop, D. S. (1983). The McMaster family assessment device. Journal of Marital and Family Therapy, 9(2), 171–180.
Epstein, N. B., Bishop, D. S., & Levin, S. (1978). The McMaster model of family functioning. Journal of Marriage and Family Counseling, 4(1), 19–31.
Fallahchai, R., Fallahi, M., & Badiee, M. (2019). Intent, attitudes, expectations, and purposes of marriage in Iran: A mixed methods study. Current Psychology, 40(12), 5301–5311. https://doi.org/10.1007/s12144-019-00362-y
Hawari, H. (2025, Agustus 11). Angka perceraian meningkat, Menag usul UU Perkawinan direvisi. detik.com. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7882041/angka-perceraian-meningkat-menag-usul-uu-perkawinan-direvisi
Himawan, K. K. (2020). Menikah adalah ibadah: Peran agama dalam mengkonstruksi pengalaman melajang di Indonesia. Jurnal Studi Pemuda, 9(2), 120–135.
Hussain, S. K., & Hayee, A. A. (2024). Impact of family functioning style on self-regulation and marital attitude of young adults from Pakistan. Journal of Development and Social Sciences, 5(4), 242–254.
Kim, H. S., & Jung, Y. M. (2015). Self-differentiation, family functioning, life satisfaction and attitudes towards marriage among South Korean university students. Indian Journal of Science and Technology, 8(19), 1–9.
Lazinski, M. J., & Ehrenberg, M. F. (2024). Young adults’ outlook on marriage: The influence of parental divorce, family of origin functioning and attachment style. Family Transitions, 65(7), 459–486.
Li, Y., & Tang, C. (2024, June). The marital attitudes among Chinese females in emerging adulthood: The role of differentiation of self and relationship self-efficacy. In Proceedings of the 3rd International Conference on Social Sciences and Humanities and Arts (SSHA 2024) (pp. 286–304). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-518-1_36
Najarpourian, S., Ghasemi, A., & Shahidi, A. (2019). The relationship between differentiation of self and marital attitudes among Iranian young adults. Contemporary Psychology, 14(2), 33–42.
Ningrum, D. N. F., Latifah, M., & Krisnatuti, D. (2021). Marital readiness: Exploring the key factors among university students. Humanitas: Indonesian Psychological Journal, 18(1), 65–74.
Ningtias, I. S. (2022). Faktor yang mempengaruhi penurunan angka pernikahan di Indonesia. Jurnal Registratie, 4(2), 87–98.
Prameswari, A., Elvina, A., Kurinci, A. I. A., Fakhri, H. O., Purwanti, N. A., Ramadhan, R., & Khalid. (2023). Analisis status ekonomi dan tingkat pendidikan terhadap pernikahan usia dini di Desa Kubah Sentang – Kec. Pantai Labu. Jurnal Ekombis Review, 11(1), 165–174.
Putri, N. R., Aprilia, D., & Kaisuku, A. F. H. (2024). Motif wanita takut menikah di usia lanjut. In Prosiding Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial (SNIIS) (Vol. 3, pp. 22–34).
Qalbi, S. A. (2022). Hubungan kecerdasan emosi dan kesiapan menikah pada individu dewasa awal [Skripsi, Universitas Islam Indonesia].
Santrock, J. W. (2019). Life-span development. McGraw-Hill Education.
Shafa, N. F., Latifah, H. N., Puspita, P., Susilawati, P., & Rozak, R. W. A. (2025). Pengaruh media sosial terhadap persepsi Marriage is Scary di kalangan Gen Z. LIBEROSIS: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling, 10(4), 1–8.
Skowron, E. A., & Friedlander, M. L. (1998). The Differentiation of Self Inventory: Development and initial validation. Journal of Counseling Psychology, 45(3), 235–246.
https://doi.org/10.1037/0022-0167.45.3.235
Sonkaya, Z. I., & Öcal, N. U. (2024). Young people’s attitudes toward marriage, gender roles, and related factors. BMC Public Health, 24(3347), 1–10. https://doi.org/10.1186/s12889-024-18647-w
Susanti, D., & Sari, W. M. (2019). Hubungan tingkat pendidikan perempuan dan orang tua dengan pernikahan perempuan usia dini. Jurnal Ilmu Kesehatan, 3(1), 35–41.
Syafiq, M. (2023). Peran influencer di media sosial terhadap tren Marriage is Scary (Analisis maqashid syariah). Al Hurriyah: Jurnal Hukum Islam, 7(1), 150–157.
Usmi, R. S., Suryani, T. A., Maharani, R., Erniati, E., Sari, P. C. W., Vania, P. J., Amalia, R., Putri, G. A., Norantika, D., & Isra, A. (2025). Faktor penyebab wanita menunda pernikahan di Indonesia. TRILOGI: Jurnal Ilmu Teknologi, Kesehatan, dan Humaniora, 6(1), 18–26.
Yan, C. M., Yin, C. N. C., & Qing, C. C. Y. (2024). Exploring the modern Malaysian marriage: Understanding the relationship of gender role attitudes, attitudes toward childbearing, family functioning and attitudes toward marriage among young adults in Malaysia. Jurnal Psikologi Malaysia, 38(2), 90–106.
Yonghwa, L., & Ananda, F. (2024). Faktor sosial di balik rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan. In Seminar Nasional LPPM UMMAT (Vol. 3, pp. 1060–1069).